Lompat ke isi
Nutmegwake
Laut toska dangkal dilihat tegak lurus dari udara, pasir pucat di dasar, gugus karang gelap di tepi.

NUTMEGWAKE

Musim 3: enam pelabuhan, satu kapal, makan selama sandar.

Ikut berlayar

Sandar berikutnyaBanda Neira, episode 5Minggu, 18 Oktober, pukul 07.00 WIT

Enam kali sandar

Tali dilempar ke dermaga, kami turun. Suling tiga kali, kami sudah harus di dek.

Aturannya satu: kru hanya makan selama kapal sandar. Kenyang atau belum, kapal perintis tidak menunggu siapa pun, apalagi tiga orang yang masih mengunyah.

Musim 3 berisi tujuh episode, 14 sampai 22 menit. Empat sudah tayang. Yang baru naik tiap Minggu pukul 07.00 WIT.

Sandar 1 dari 6

Ternate

Sabtu, 1 Agustus. Tali dilempar 06.10, dilepas 08.50.

2jam40menitkapal sandar

Tangan berjam tangan memeras lemon cui di atas sepiring gohu ikan, di meja kayu biru tepi laut. Pulau gunung api di seberang selat. Gohu ikan di piring enamel: tuna mentah potong dadu, kenari, kemangi, bawang merah, cabai, dan dua belah lemon cui.
Episode 1, 16 menit. Turun sebelum matahari tinggi. Gohu ikan baru dipotong setelah dipesan, jadi 40 menit pertama habis untuk menonton pisau dan melirik jam.

Buku Log: gohu ikan

Warung Mama Ona, lorong belakang pelabuhan

Ikannya
Tuna dipotong dadu sebesar ruas jempol, masih dingin, lalu disiram minyak kelapa panas tepat sebelum diantar.
Asam dan pedasnya
Lemon cui diperas di meja dan rawitnya diiris kasar. Dua-duanya datang lebih dulu daripada ikannya.
Yang tertinggal
Kenari sangrai dan kemangi. Sampai Tidore masih terasa di gigi.

Menit 47 piring datang. Menit 151 kami sudah di dek. Sisa 9 menit.

Putusan kru

Layak ketinggalan kapal

Tingkat tertinggi dari tiga. Pendapat kru sendiri, hari itu, di meja itu.

Sandar 2 dari 6

Tidore

Sabtu, 1 Agustus. Tali dilempar 09.40, dilepas 11.30.

1jam50menitkapal sandar, terpendek musim ini

Dilihat dari belakang bahu, seorang perempuan menggulung popeda dengan dua garpu kayu di rumah makan panggung. Kapal putih tertambat di dermaga. Nampan kayu berisi semangkuk popeda bening kental dengan dua garpu kayu dan semangkuk ikan kuah kuning.
Episode 2, 14 menit. Popeda tidak bisa dimakan cepat, karena memang tidak dikunyah. Jeane belajar menggulungnya sambil dihitung mundur oleh Rizal.

Buku Log: popeda dan ikan kuah kuning

Kedai Ibu Hadijah, ujung dermaga

Ikannya
Potongan kakap dalam kuah kunyit yang encer. Dagingnya lepas dari tulang begitu disentuh garpu.
Asam dan pedasnya
Asam dari lemon cui dan tomat. Pedasnya tipis, sengaja, supaya popeda bisa meluncur.
Yang tertinggal
Cara menggulung popeda dengan gata-gata. Jeane gagal tiga kali di depan kamera.

Menit 22 piring datang. Menit 104 kami sudah di dek. Sisa 6 menit.

Putusan kru

Lari balik ke dermaga

Tingkat kedua dari tiga. Habiskan, lalu lari.

Sandar 3 dari 6

Ambon

Senin, 3 Agustus, tali dilempar 17.30. Dilepas Selasa pukul 07.00.

13jam30menitkapal sandar, satu-satunya malam di darat

Petang di tepi teluk: barisan cakalang dijepit bambu berdiri di atas bara sabut kelapa, seorang laki-laki dari belakang memegang satu jepitan. Kapal berlampu di seberang. Ikan asar: cakalang asap cokelat mengilap dijepit bambu di atas daun pisang, dengan secawan colo-colo.
Episode 3, 21 menit. Tidak ada jam yang dikejar, jadi kami makan dua kali dan tidur terlambat. Baju Rizal bau asap sampai Saparua.

Buku Log: ikan asar dan colo-colo

Tungku Om Buce, Galala

Ikannya
Cakalang dijepit bambu dan diasap berdiri dekat bara. Kulitnya cokelat tua, dagingnya masih basah.
Asam dan pedasnya
Colo-colo: rawit, bawang merah, tomat hijau, lemon cui. Disiramkan ke ikan, tidak dicocol.
Yang tertinggal
Asap sabut kelapa di jari. Dicuci dua kali, masih ada.

Garis sandar tidak dihitung malam itu. Kapal baru berangkat pagi, dan untuk sekali ini tidak ada yang lari.

Entri kedua, pagi: ikan kuah asam

Lapak depan gerbang pelabuhan, pukul 05.50

Ikannya
Potongan ekor yang sudah terlalu lama di panci. Seratnya lepas sebelum disendok.
Asam dan pedasnya
Asamnya ada. Pedasnya ketinggalan di dapur.
Yang tertinggal
Rasa bersalah, karena lapak nasi kuning di sebelahnya antre dan kami tidak ikut.

Putusan kru

Tetap di dek

Tingkat terendah dari tiga. Sisa 25 menit, dan tidak ada yang menyesal kembali cepat.

Putusan kru

Layak ketinggalan kapal

Tingkat tertinggi dari tiga. Kami hampir membuktikannya.

Sandar 4 dari 6

Saparua

Selasa, 4 Agustus. Tali dilempar 11.20, dilepas 14.40.

3jam20menitkapal sandar

Dua tangan mengangkat sebatang sagu lempeng dari forna, cetakan tanah liat bercelah di atas api kayu. Sagu yang sudah jadi berjajar di daun pisang, laut terlihat dari pintu. Nampan anyaman beralas daun pisang: empat batang sagu lempeng cokelat kemerahan dan segunduk kohu-kohu dengan kelapa parut, kacang panjang, taoge, dan suwiran ikan asap.
Episode 4, 18 menit. Sagu lempeng dibakar di forna, cetakan tanah liat yang dipanaskan sampai merah. Menunggunya lebih lama daripada memakannya.

Buku Log: sagu lempeng dan kohu-kohu

Dapur Mama Tina, Haria

Ikannya
Suwiran ikan asap di dalam kohu-kohu, bersama kelapa parut, kacang panjang, taoge, dan kemangi.
Asam dan pedasnya
Lemon cui dan rawit diulek langsung ke kelapanya. Segar dulu, pedasnya datang belakangan.
Yang tertinggal
Sagu lempeng keras seperti genting. Dicelup teh dulu, baru mau digigit.

Menit 68 piring datang. Menit 188 kami sudah di dek. Sisa 12 menit.

Baca: sagu yang sama, di dapur kapal

Putusan kru

Lari balik ke dermaga

Tingkat kedua dari tiga. Wening menduga nilainya naik kalau dimasak dalam kuah.

Sandar 5 dari 6

Banda Neira

Rabu, 5 Agustus. Tali dilempar 06.30, dilepas 11.30.

5jamkapal sandar, terpanjang di siang hari

Semangkuk ikan kuah pala di meja beranda kayu, dua buah pala di sebelahnya, satu terbelah. Di seberang laguna tenang berdiri kerucut hijau gunung api.

Episode 5 tayang Minggu, 18 Oktober, pukul 07.00 WIT

Ikan kuah pala: kuah bening keemasan dengan dua potong ikan putih, irisan daging buah pala, bawang merah, rawit utuh, dan kemangi.
Episode 5, 22 menit. Lima jam di pulau yang seluruhnya wangi pala. Untuk pertama kalinya musim ini, kami selesai makan sebelum ada yang melirik jam.

Buku Log: ikan kuah pala

Beranda Ibu Salma, tepi laguna

Kalimat pertama dari log
Kuahnya bening, irisan daging buah pala mengapung di atasnya, dan asamnya tidak datang dari jeruk.

Dua kalimat sisanya dan garis sandarnya terbit bersama episodenya.

Putusan kru

Terbit 18 Oktober

Putusan tidak dibuka sebelum kamu bisa menonton buktinya.

Sandar 6 dari 6

Tual

Kamis, 6 Agustus. Tali dilempar 09.00, dilepas 13.10.

4jam10menitkapal sandar, pelabuhan terakhir

Pantai pasir putih saat surut. Di depan, enbal dan anggur laut di atas daun pisang; di belakang, seorang perempuan dari belakang membungkuk memungut lat ke keranjang.

Episode 6 tayang Minggu, 25 Oktober, pukul 07.00 WIT

Papan kayu beralas daun pisang: empat lempeng enbal putih kering dan setempurung lat, anggur laut hijau dengan kelapa parut dan cabai.
Episode 6, 19 menit. Enbal dari singkong yang diperas sampai kering, lat dari laut yang surut pagi itu. Kami orang pertama yang turun dari kapal, dan ada alasannya.

Buku Log: enbal dan lat

Tikar Mama Fin, pantai di utara pelabuhan

Kalimat pertama dari log
Lat meletus di gigi seperti telur ikan, asin laut, dan langsung minta sesuatu yang kering di sebelahnya.

Dua kalimat sisanya dan garis sandarnya terbit bersama episodenya.

Putusan kru

Terbit 25 Oktober

Putusan tidak dibuka sebelum kamu bisa menonton buktinya.

Buku Log musim 3

Wening menulis satu entri di dek tiap kali tali dilepas, sebelum ada yang sempat lupa. Isinya selalu sama: tanggal, pelabuhan, lama sandar, piring, lalu tiga kalimat. Satu tentang ikannya, satu tentang asam dan pedasnya, satu tentang yang tertinggal sesudah kapal jalan.

Kami mengukur putusannya dengan jam kapal, tanpa angka. Ini pendapat kami bertiga pada hari itu, di jam sandar itu. Dapur bisa berubah, dan seleramu boleh berbeda.

Layak ketinggalan kapal
Kalau suling berbunyi di tengah suapan, kami tetap duduk dan mulai menanyakan kapal berikutnya.
Lari balik ke dermaga
Habiskan sampai bersih, lalu lari. Enak, tapi kapal tetap menang.
Tetap di dek
Tidak perlu turun untuk piring ini. Lihat pelabuhannya dari pagar saja.
Delapan entri: enam pelabuhan, satu pagi tambahan di Ambon, dan satu malam di laut. Nama pelabuhan membawamu ke babnya, tombol di ujung membuka videonya di menit yang dimaksud.
PelabuhanPiringLama sandarSisa waktu di dekPutusan kruTonton
TernateSabtu, 1 AgustusGohu ikanWarung Mama Ona2 jam 40 menit9 menitLayak ketinggalan kapal
TidoreSabtu, 1 AgustusPopeda dan ikan kuah kuningKedai Ibu Hadijah1 jam 50 menit6 menitLari balik ke dermaga
Ambon, malamSenin, 3 AgustusIkan asar dan colo-coloTungku Om Buce13 jam 30 menitTidak dihitungLayak ketinggalan kapal
Ambon, pagiSelasa, 4 AgustusIkan kuah asamLapak depan gerbang pelabuhanSandar yang sama25 menitTetap di dek
SaparuaSelasa, 4 AgustusSagu lempeng dan kohu-kohuDapur Mama Tina3 jam 20 menit12 menitLari balik ke dermaga
Banda NeiraRabu, 5 AgustusIkan kuah palaBeranda Ibu Salma5 jamTerbit 18 OktoberTerbit 18 OktoberEpisode 5 belum tayang
Laut BandaRabu malam, 5 AgustusSagu lempeng kuah ikan asarDapur kapal, Pak HamidTidak sandarSemalamanTanpa putusanKami tidak memakannya. Baca alasannya
TualKamis, 6 AgustusEnbal dan latTikar Mama Fin4 jam 10 menitTerbit 25 OktoberTerbit 25 OktoberEpisode 6 belum tayang
Buritan kapal malam hari. Satu lampu dek menyala kuning, dua awak duduk membelakangi kamera, jejak buih pucat hilang ke laut yang hampir hitam.

Episode 7, di antara dua pelabuhan

Darat tidak kelihatan

Dapur kapal yang sempit di bawah satu bohlam kuning. Koki dilihat dari belakang mengaduk panci yang ditahan palang besi di atas kompor; di meja baja ada pecahan sagu lempeng, ikan asap, tomat, rawit, dan lemon cui.

Episode 7 tayang Minggu, 1 November, pukul 07.00 WIT

Aturannya tetap berlaku. Kami merekam, awak kapal makan.

Dari Banda Neira ke Tual kapal berlayar 21 jam setengah tanpa satu dermaga pun. Episode penutup direkam di dapur selebar dua langkah, bersama koki yang sudah sembilan belas tahun memasak sambil berpegangan.

Direkam
Rabu malam, 5 Agustus, Laut Banda
Panjang
15 menit, terpendek kedua musim ini
Yang memasak
Pak Hamid Rumra, koki kapal
Yang makan
Semua orang kecuali kami

Yang dimasak ketika darat tidak kelihatan

Wening Prabandari, ditulis di dek, malam kelima

Aturan kami sederhana dan saya sendiri yang mengusulkannya: kru hanya makan selama kapal sandar. Malam kelima, pukul 22.40, di antara Banda Neira dan Tual, saya menyesalinya. Darat sudah tidak kelihatan sejak sore, dermaga berikutnya masih sepuluh jam lagi, dan dari dapur kapal keluar bau bawang yang ditumis.

Pukul 23.15 Pak Hamid Rumra masuk dapur. Ia sudah sembilan belas tahun memasak di kapal ini. Dapurnya selebar dua langkah. Kompornya diikat ke dinding, pancinya ditahan palang besi supaya tidak meluncur waktu kapal miring. Ia tidak bertanya kenapa kami hanya merekam. Ia menyalakan api dan mulai bekerja.

Tidak ada yang segar di meja Pak Hamid malam itu, dan itulah yang ingin saya catat. Sagu lempeng dari Saparua, keras seperti genting, ia patahkan lalu rendam dalam kuah. Ikan asar dari Ambon ia suwir dan masak lagi dengan tomat, rawit, dan perasan lemon cui. Terakhir ia memarut sedikit daging buah pala yang kami bawa dari Banda pagi tadi. Tiga pelabuhan dalam satu panci. Kuahnya merah kecokelatan, berminyak tipis di permukaan. Pak Hamid mencicipnya dari ujung sendok kayu, menambah garam, lalu mengangguk kepada pancinya.

Setengah jam lewat tengah malam pancinya mulai mendidih. Di darat kami menilai makanan dari yang paling baru: ikan yang dipotong setelah dipesan, popeda yang diaduk di depan mata. Di laut ukurannya terbalik: orang mencari yang tahan. Sagu lempeng bisa disimpan berbulan-bulan. Ikan asar diasap supaya sampai ke pulau seberang. Enbal di Kei diperas sampai kering dengan alasan yang sama.

Saya baru paham malam itu bahwa separuh makanan yang kami kejar di enam pelabuhan memang dibuat untuk dibawa pergi. Orang di kepulauan ini sudah lama sekali makan di antara dua pulau. Piring yang kami puji di Buku Log adalah bekal yang kebetulan kami makan sebelum berangkat.

Pukul 01.10 awak kapal mulai makan bergantian, berdiri, mangkuk dipegang dekat dada. Tidak ada yang bicara soal rasa. Seorang juru mudi menambah dua kali. Rizal merekam tangannya. Jeane, yang biasanya tidak bisa diam di depan makanan, duduk di ambang pintu dan menghitung jam. Saya menghitung mangkuk: empat belas keluar dari dapur itu sebelum pancinya dikerok.

Saya tidak bisa menulis putusan untuk masakan Pak Hamid, karena saya tidak memakannya. Yang bisa saya tulis: baunya membuat tiga orang dewasa menyesali aturan yang mereka buat sendiri. Di Saparua sagu lempeng kami beri Lari balik ke dermaga karena kami memakannya kering; kamu bisa melihat Jeane mencelupnya ke teh di . Dalam kuah Pak Hamid, saya kira ia naik satu tingkat.

Kapal sandar di Tual pukul 09.00. Kami orang pertama yang turun.

Episode 7 merekam malam ini dari dalam dapur. Tayang 1 November.

Tiga catatan dari dek

Piring enamel kosong berisi kulit lemon cui, batang kemangi, dua rawit, dan sendok. Di sebelahnya gelas kosong dan jam tangan tergeletak di meja biru; kapal putih menunggu di dermaga.
Ternate, menit ke-140. Jam tangan Jeane sengaja dilepas supaya kelihatan.

Jeane Latuheru, dari Ternate

Kenapa kami tidak pernah pesan dua kali

Di Ternate saya hampir memesan piring kedua. Rizal tidak bilang apa-apa, ia cuma memutar jam tangannya ke arah saya. Sejak itu aturannya: satu piring, dihabiskan, lalu jalan.

Piring kedua biasanya lebih enak di kepala daripada di meja. Hari itu kami naik ke dek dengan sisa sembilan menit, dan saya tidak mau tahu rasanya dengan sisa nol.

Lihat entri gohu ikan di Buku Log
Dua tangan memegang dua garpu kayu yang saling memutar, mengangkat untaian popeda bening dari mangkuk. Semangkuk kuah kuning menunggu di bawahnya.
Gata-gata di tangan Ibu Hadijah. Dua putaran, selesai.

Rizal Umasugi, dari Tidore

Dua garpu untuk bubur yang tidak mau diam

Namanya gata-gata. Dua garpu kayu, diputar berlawanan arah sampai popeda menggulung sendiri, lalu dijatuhkan ke kuah. Ibu Hadijah melakukannya dalam dua putaran. Jeane butuh sembilan, dan satu di antaranya mendarat di lensa saya.

Buah pala terbelah dua: daging buah kuning pucat, biji cokelat tua terbungkus fuli merah seperti jala, dan dua helai daun.

Wening Prabandari, dari Banda Neira

Pala itu buah

Yang dikirim ke mana-mana adalah bijinya, dan fuli merah yang membungkus biji itu. Daging buahnya tinggal di Banda: diiris ke kuah ikan, dijadikan manisan, dijemur di tampah depan rumah.

Rasanya sepat dan asam. Wanginya seperti biji yang kamu kenal, tapi lebih basah. Nama situs ini datang dari situ, dan dari jejak buih di belakang kapal.

Ke bab Banda Neira

Tiga orang di buritan

Satu makan dan bicara, satu memegang kamera, satu menulis. Tidak ada yang bertugas melihat jam, jadi ketiganya melihat jam.

Tiga orang dilihat dari belakang di pagar buritan: perempuan berkuncir dengan sendok di saku belakang, laki-laki berkemeja denim dengan kamera di bahu, perempuan bersanggul memegang buku tulis dalam plastik. Jejak buih putih memanjang ke cakrawala.
Daftar awak Nutmegwake
NamaTugasYang dibawa turunCatatan jam kapal
Jeane LatuheruMakan dan bicara, kadang bersamaan.Sendok sendiri di saku belakang, dan jam tangan yang disetel lima menit lebih cepat.Selalu yang terakhir berdiri dari meja. Belum pernah yang terakhir naik.
Rizal UmasugiKamera. Makan paling akhir, jadi selalu dapat yang dingin.Satu kamera, dua baterai, sandal cadangan.Jatuh satu kali di dermaga Tidore yang berlumut. Rekamannya ada di .
Wening PrabandariMenulis Buku Log di dek sesudah tali dilepas, sebelum lupa.Buku tulis bergaris, pensil, dan kantong plastik untuk bukunya.Yang mengusulkan aturan makan selama sandar. Menyesalinya satu malam.

Kabari tiap kapal berangkat

Satu surel tiap Minggu pagi saat episode baru tayang: tautan episodenya, entri Buku Log-nya, dan satu catatan yang tidak masuk kamera.

Tata tertib penumpang

Empat lembar di papan pengumuman dek. Berlaku untuk semua yang menonton, membaca, dan menulis kepada kami.

Lembar 1: Privasi

Berlaku sejak 1 September 2026

1.1Siapa yang memegang datamu

Nutmegwake Films adalah pengendali data pribadi untuk situs ini, sesuai Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi. Pertanyaan soal data bisa dikirim ke [email protected].

1.2Data yang kami kumpulkan

Alamat surel saat kamu mendaftar buletin. Isi pesan saat kamu menulis ke redaksi. Data teknis dasar seperti jenis peramban dan halaman yang dibuka, dalam bentuk gabungan yang tidak menunjuk orang per orang.

1.3Untuk apa dipakai

Mengirim kabar tiap episode tayang, menjawab pesanmu, dan memperbaiki halaman yang sering macet. Kami tidak menyusun profil dari kebiasaan menontonmu.

1.4Pemutar video

Video dimuat dari YouTube dalam mode privasi yang ditingkatkan, dan baru dimuat setelah kamu menekan Putar. Sebelum itu tidak ada permintaan yang dikirim ke penyedia video.

1.5Berapa lama disimpan

Alamat surel disimpan selama kamu terdaftar dan dihapus paling lama 30 hari sesudah kamu berhenti. Pesan ke redaksi disimpan 12 bulan, lalu dihapus.

1.6Hakmu

Kamu berhak meminta salinan, perbaikan, atau penghapusan datamu, dan menarik persetujuan kapan saja. Kami menjawab paling lambat 3 x 24 jam sejak permintaan diterima.

1.7Pihak lain

Data hanya diteruskan ke penyedia layanan pengiriman surel yang terikat perjanjian pemrosesan dengan kami. Tidak ada pihak lain yang menerimanya.

1.8Perubahan lembar ini

Tanggal di kepala lembar berubah tiap kali isinya berubah. Perubahan yang menyangkut cara kami memakai surelmu dikabarkan lewat buletin sebelum berlaku.

Trailer musim 3

Video dimuat setelah kamu menekan Putar.

Buka di YouTube